Sabtu, 19 Januari 2013

3 Langkah Menuju Hidup Bahagia

Tiga Langkah Menuju Hidup Bahagia



Apakah menurut Anda saya berbahagia? Ya, saya berbahagia. Apakah kehidupan saya sempurna? Tidak. Dan ketidaksempurnaan kehidupan, adalah kesempurnaan manusia. Terimalah.

Catatan ini (mestinya) adalah catatan pertama dari seluruh catatan yang pernah saya buat. Entah mengapa, baru terpikirkan sekarang. Tidak mengapa, apa yang lebih penting bagi kita adalah terus belajar tanpa henti. Termasuk, jika harus mundur dulu beberapa langkah, agar langkah kita berikutnya menjadi lebih berarti, lebih bermakna, dan lebih membahagiakan.

Ada tiga langkah yang bisa kita lakukan untuk mencapai kehidupan yang berbahagia. Kemanapun kita mencari segala rumusan tentang "berbahagia", maka sesungguhnya segala rumusan itu bercerita tentang tiga hal ini.

1. MEMAHAMI REALITAS TENTANG "REALITAS"

Apa yang kita sebut dengan "realitas" sesungguhnya terdiri dari dua macam realitas, yaitu:

Realitas Eksternal
Realitas Internal

Realitas Eksternal adalah segala bentuk realitas yang terjadi pada diri dan di luar diri kita. Realitas ini adalah segala fakta yang terjadi dan berlangsung di dalam kehidupan kita.

Realitas Internal adalah bentuk-bentuk pemaknaan yang kita lakukan terkait dengan Realitas Eksternal yang terjadi.

Apa yang paling penting adalah yang berikut ini.

Setiap kita bereaksi terhadap makna-makna yang kita bangun menjadi Realitas Internal. Kita bersikap, mengambil keputusan, dan bertindak, dengan mendasarkan diri pada Realitas Internal.

Jika Anda melihat satu bintang di langit suatu malam, Anda melihat sebuah realitas keberadaan bintang. Bintang itu bagi Anda, benar-benar ada dan nyata.

Jika bintang itu berjarak 10.000 tahun cahaya, maka apa yang Anda lihat adalah gelombang cahaya yang sampai ke mata Anda, setelah berjalan menempuk jarak selama 10.000 tahun lamanya. Kemudian, Anda memberi makna, bintang itu "ada" di sana.

Jika bintang itu "nyatanya" sudah meledak 5.000 tahun yang lalu di angkasa raya dan tinggal menjadi debu yang beterbangan saja, maka sesungguhnya apa yang Anda lihat, adalah benda yang sesungguhnya sudah tidak ada.

Maka ketika Anda mengatakan melihat bintang, sangat mungkin realitas itu adalah Realitas Internal, alias pemaknaan yang Anda berikan berdasarkan hasil pengamatan mata fisik Anda.

Ketika Anda mengatakan bahwa bintang itu sebenarnya sudah tidak ada lagi karena sudah meledak sejak 5.000 tahun yang lalu, maka realitas yang Anda maksud adalah Realitas Eksternal, yang telah Anda maknai menjadi Realitas Internal dengan pikiran dan hati.

Pada realitas yang manakah Anda semestinya bereaksi? Apakah Anda mau tertipu oleh mata fisik Anda, atau Anda lebih memilih untuk mempercayai mata hati?

Realitas Eksternal berlangsung dan terjadi pada diri dan di luar diri kita. Realitas Internal berlangsung di dalam pikiran dan di dalam hati.

Dan jika kita memang merasa manusia, manakah yang lebih kita utamakan?

Tuan A, sangat menyukai saya. Dan Tuan B, sangat membenci saya. Dua fenomena itu, suka dan benci, bisa terjadi pada saat yang bersamaan terkait dengan suatu obyek, yaitu saya.

Maka perhatikanlah, bahwa sikap dari masing-masing Tuan A dan Tuan B, sebenarnya tidak terlalu obyektif mengikuti kenyataan yang ada pada saya, melainkan lebih didominasi oleh makna-makna yang dibangun oleh Tuan A dan Tuan B sendiri.

Dengan kata lain, Tuan A dan Tuan B memiliki Realitas Internal-nya masing-masing tentang saya. Dan keduanya, memberi makna, mengambil sikap, memilih keputusan, dan bertindak dengan mendasarkan diri pada Realitas Internal itu.

Apapun yang mereka sikapi, putuskan, dan tindaklanjuti terkait dengan saya, tidak pernah didasarkan pada saya atau karena saya, melainkan pada atau karena Realitas Internal mereka tentang saya.

Jika Tuan B berkepentingan untuk merubah rasa tidak sukanya pada saya, apa yang perlu dilakukannya adalah bukan merubah saya, melainkan merubah Realitas Internal-nya tentang saya.

Jika saya berkepentingan untuk membuat Tuan B menjadi suka pada saya, apa yang perlu saya lakukan adalah membantu Tuan B, mengkreasi Realitas Internal yang lebih baik tentang saya. Caranya, dengan menciptakan Realitas Eksternal saya, yang saya anggap paling membantu Tuan B untuk menciptakan Realitas Internal-nya yang lebih baik tentang saya.

Jika Tuan B dan saya berkepentingan untuk saling menyukai, apa yang perlu kami lakukan berdua adalah, mengkreasi Realitas Internal kami masing-masing, yang kami anggap mendukung kami berdua, dan menciptakan Realitas Eksternal kami masing-masing, yang kami anggap mendukung kami berdua, untuk saling kami pertukarkan di antara kami, sehingga berpengaruh baik terhadap pembentukan Realitas Internal kami masing-masing.

Singkatnya, adalah lebih baik jika Anda terus mengupayakan diri makin terampil dalam menciptakan dan mengelola Realitas Internal. Sebab, Realitas Internal Andalah yang lebih banyak akan menjadi realitas kehidupan.

2. MEMILIH REALITAS

Jika Anda sudah menyadari bahwa realitas kehidupan Anda dibangun oleh dua macam realitas, dan salah satunya ternyata jauh lebih berpengaruh bagi kehidupan Anda, maka kini Anda punya pilihan:

A. Menerima hidup apa adanya, dengan sekedar menjalani Realitas Eksternal dan menciptakan Realitas Internal tanpa pola, tanpa arah, dan terseok-seok ke sana kemari. Dengan ini, Anda adalah obyek dari kehidupan. Anda dipimpin oleh dunia luar. Dan itu, tidak selalu sesuai dengan cita-cita dan harapan Anda.

B. Menerima hidup dengan penuh makna. Realitas Eksternal yang terjadi pada diri Anda, Anda maknai dengan cara-cara yang membuat Anda bisa mencapai rasa nyaman dan bahagia. Anda membangun Realitas Internal dengan pola, arah, dan perjalanannya, yang akan makin menyamankan dan membahagiakan Anda. Bonusnya adalah kedewasaan, kematangan, kepantasan, dan pertumbuhan.

Ketika Anda dilahirkan ke dunia, modal awal Anda adalah kemampuan memilih. Kemudian Anda tumbuh besar dengan kemampuan itu.

Orang bijak, pemimpin dan tokoh besar, buku-buku yang baik, orang-orang terbaik, para nabi, kitab suci, dan bahkan Tuhan yang Maha Menciptakan Anda, selalu mengajari Anda untuk terampil memilih realitas.

Jika Anda terampil, maka Realitas Eksternal adalah bahan baku untuk membangun Realitas Internal. Segala sesuatu tidak diciptakan dengan sia-sia. Semuanyanya punya arti, maksud, dan makna. Semuanya adalah bahan baku untuk kebahagiaan Anda. Dan bahagia, adalah Realitas Internal.

3. MEMELIHARA DAN MENJAGA PILIHAN

Setiap pilihan, selalu punya konsekuensi. Di antara konsekuensi yang paling berat adalah gangguan atau distorsi yang akan membuat Anda terpengaruh dan melenceng dari perjalanan menuju kenyamanan dan kebahagiaan.

Maka, dua hal berikut inilah yang perlu Anda asah selalu, sebagai bekal untuk menjadi manusia yang terampil mengelola Realitas Internal.

A. Selalu menaikkan dan meninggikan nilai dan tingkat kepentingan misi mulia Anda.

B. Selalu menurunkan dan merendahkan nilai dan tingkat kepentingan berbagai fenomena yang menjadi masalah, kendala, hambatan, persoalan, gangguan, dan rintangan yang menghalangi jalan Anda menuju rasa nyaman dan bahagia.

Jika orang menganggap bahwa hidup itu adalah seni, maka seni itu adanya pada tiga hal ini, memahami realitas, memilih realitas dan memelihara dan menjaga pilihan realitas. Maka Anda, akan menjadi manusia yang menguasai kehidupan. Anda bukan korban, Anda adalah pemimpin. Pemimpin kehidupan.

Semoga bermanfaat.




Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terjemahkan