Rabu, 03 Oktober 2012

Ada Cinta dalam Alzheimer

Ada Cinta dalam Alzheimer
Aku menangkap senja di peraduannya. Berjalan menuju bukit-bukit kisahku yang tak terelakkan tantangannya. Memang sedikit gila aku berpikir hingga ke dalam inti otakku sehingga nukleus sel-sel syarafku mengernyit seiring nada yang berjalan dalam pembuluhnya. Tak lagi aku jumpai burung-burung senja pulang ke tempat kediamannya. Aku telah lama rindu dengannya. “Ah! Peduli amat aku sama dia. Memang dia raja apa? Sampai aku tergila-gila begitu,” sesalku dengan sedikit kemarahan. Kuning emas menutupi siang begitu cepat. Aku tak sempat tidur dalam kerumunan kendaraan mewah yang berlalu lalang. Sungguh beban yang berat. Zat-zat kimia dalam tubuhku takkan bisa ku lepaskan sedikit pun. Aku tak mau lagi bercanda dengan duniaku yang telah sakit ini. Harapan semu masihku gantungkan pada bintang-bintang yang lelah menatapku. Namun, sebisa mungkin dia tetap berkelip menghiburku. “Oh, sungguh menakjubkan ternyata. Kapan-kapan aku pergi denganmu ya bintang kecil. Aku ingin jadi temanmu. Love you!” kataku berbicara lirih pada bintang malam. *** Malam yang melelahkan mengungkapkan seribu tanya yang takkan terelakkan begitu saja. Aku kembali teringat padamu yang jauh disana. Kau pun berjanji takkan meninggalkanku begitu saja bahkan lama. Mungkin aku telah dibalut rindu yang takkan bisa berperan dalam duniamu, tapi aku mohon kau bisa menyimpan berjuta kenangan kita dalam perjalanan manismu. “San, kamu nggak makan?” sapa Mama mengagetkanku. “Eh, iya, Ma! Bentar ya. Aku mau rapiin buku dulu, nanti aku nyusul Mama ke ruang makan deh,” kataku tersenyum ramah. “Oh, oke! Jangan lama-lama ya, Nak!” kata Mama. “Oke, Ma!” jawabku mantap. Tak sedikit aku lupa dengan dirimu. Untuk sementara akan ku tutup dulu buku kisahku denganmu. Aku telah dipanggil Mama dari tadi untuk makan. Tak lama ruang makan pun telah ku tempati dengan begitu cepat. Sungguh menyenangkan berkumpul dengan Mama, Papa dan adikku, Sara. Si kecil yang manis membuatku semakin suka untuk bercanda dengannya. “San, gimana sekolahmu tadi?” tanya Papa. “Aman-aman aja kok, Pa!” jawabku singkat. “Kamu nggak sering sakit kepala lagi kan?” tanya Papa balik. “Nggak kok, Pa! Sudah agak mendingan dari yang kemaren,”kataku. “Oh, syukurlah. Habis makan jangan lupa minum obatnya ya,”balas Papa. “Iya, Pa!” kataku ramah. Tak sedikit Papa lupa menanyakan sekolah dan kesehatanku. Seakan-akan hal itu dianggapnya sangat penting untuk kemajuanku. Aku seringkali termotivasi dengan kata-kata Papa yang tidak terlalu memaksaku untuk mengikuti kehendaknya. Sebisa mungkin beliau selalu untuk menyamakan keinginanku dengan beliau agar aku bisa selalu tersenyum untuk melalui hari-hariku. *** Langit cerah pagi menyapaku. Hari itu adalah hari Minggu. Handphoneku berdering tanda telpon telah masuk dari Alex yang sedang berada di Australia dalam rangka memenuhi undangan untuk mengaktifkan penghijauan lingkungan di Indonesia. Dia salah satu terpilih dari berbagai siswa yang ada di sekolahnya. Alex diundang selama sebulan. Cepat-cepat aku mengangkat telponnya. “Halo!” jawabku heran. “Halo, San! Ini aku Alex. Gimana kabarmu?” kata Alex. “Eh, kamu. Aku sangka siapa. Aku baik-baik saja. Kamu gimana kabarnya?” kataku. “Aku juga baik-baik saja tapi sedikit flu ringan karena sekarang masih musim salju di Sydney,” kata Alex. “Hmm… Kapan kamu akan balik ke Indonesia?” tanyaku. “Mungkin aku akan balik sebulan lagi, kata kedutaan Indonesia di Australia akan diperpanjang sampai bulan depan. Aku kangen kamu,San!” kata Alex. “Lama banget ya! Aku juga kangen dengan kamu. Tiap malam aku akan merindukan kamu bersama bintang-bintang di langit malam,”kataku tulus. “Ya. Gimana lagi. Aku harus ikut permintaan orang disini. Lagian materi yang baru masuk hanya sedikit, sedangkan yang mau diterapkan di Indonesia banyak. Aku harus lebih keras lagi buat mempelajarinya. Doain aku sukses ya!” kata Alex. “Hmmm.. Iya deh! Kamu udah makan pagi?” kataku sedikit perhatian. “Udah! Kamu?” tanya Alex balik. “Belum! Rencananya aku mau sarapan. Tapi, telponmu udah keburu masuk ke handphoneku. Ya, aku angkat dulu,”kataku langsung. “Oh, gitu! Oke deh! Kamu sarapan dulu deh biar fit dan jangan lupa minum obatnya ya. Aku harap kamu bisa cepat sembuh ya. Sepulang aku nanti aku akan lihat senyum kamu pertama dalam bola mataku,”kata Alex penuh sayang. “Oke deh! Makasih ya, Lex!” kataku. “Iya, San!” kata Alex. “Aku tutup dulu ya!” kataku mengakhiri. “Oke!” kata Alex. *** Telpon pun telah dimatikan. Dalam kedinginan negeri Kangguru itu, Alex sempat juga menggantungkan rasa rindunya pada pohon-pohon yang berjejer sepanjang jalanan Kota Sydney. Sungguh indah dan sedikit mengharukan. Rasanya tak kalah lagi dengan rasa rindunya padaku yang telah aku tumpangkan kerinduanku pada bintang-bintang kecil yang ada dilangit. “Aku sayang kamu, Sani! Aku janji akan bawakan sejuta harapan buat cintamu,”kata Alex menatap pohon mahoni yang tak ada lagi daunnya karena salju datang begitu cepat. Wow! Telah ada sejuta cinta dalam pohon mahoni. Setelah Alex menelponku aku kembali ke meja makan yang telah tersedia dengan berbagai hidangan yang ku suka. Mama selalu membuatkanku sayuran yang baik gizinya untuk otakku. Aku terkena penyakit lupa alias demensia. Penyakit ini mungkin akan berlangsung lama, tapi aku akan menahannya dan berjuang hidup. Tak jarang aku melupakan apa yang telah ku kerjakan sebentar ini. Tapi, aku hanya tersenyum. Aku juga berharap tidak akan melupakan Alex dalam hidupku. Aku sangat berharap bintang-bintang kecil dapat memahamiku apabila aku lupa dengannya. Aku cinta Alex. *** Senin datang begitu cepat dalam kehidupanku. Seakan-akan aku akan menerima sebuah kejutan manis di sekolah. Tapi, tidaklah begitu mempersulit hidupku. Penyakit lupa yang akan membuatku semakin menyadari arti hidupku. Perjuangan yang manis membuatku terasa nyaman dalam mengkonsumsi zat-zat kimia. Senyum! Takkan pernah aku lupakan untuk memuji setiap perjalananku. Sekolah yang asri. Memang tak salah pemerintah Indonesia memilih siswa yang akan diundang untuk ikut sosialisasi tentang lingkungan ke Australia dari sekolahku. Aku senang Alex bisa terpilih. Tapi, aku juga takut Alex akan berubah pikiran dalam waktu yang lama namun cepat. Harapan memang hanya berharap tapi tak mudah aku bisa mempertahankannya dengan begitu saja. “San, kamu ada bikin PR Kimia nggak?” kata Ruri mengejutkanku. “Hmmm… Emang ada PR Kimia, Ri?” tanyaku heran. “Aduuuhhhh!!!! Sani! Kemaren kan Ibu Leli kasih kita PR tentang larutan. Kok kamu lupa sih?” kata Ruri. “Aku lupa. Maaf ya! Aku tidak bikin PR itu. Aku sangka kita tak ada PR. Aku juga lupa untuk mencatat semua tugas-tugas itu. Maaf sekali lagi ya!” kataku sedikit sakit. “Iya deh! Nggak apa-apa. Kalau gitu kita bikin yuk! Nanti dikumpul,” kata Ruri mengajakku. “Yuk!” kataku tenang. Aku pun membuat tugas kimia itu dengan sepenuh hati. Dengan sedikit sakit aku meneteskan air mata yang takkan pernah aku lupakan untuk mengalirkannya. Demensia ini menyebabkan aku terkena penyakit Alzheimer yang sungguh menakutkan. Dalam beberapa bulan ini aku akan kehilangan memori jangka panjang. Nanti! Aku takkan ingat lagi siapa diriku dan Alex. Aku takut. Tak lama dari kedatangan pagi. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring memecahkan setiap keheningan kelas yang dari tadi serius dalam proses belajar mengajar. Bu Leli menutup pelajaran dengan begitu cepat karena beliau buru-buru untuk pulang. Anaknya akan datang dari Amerika. *** Sebulan telah ku jalani sehingga aku sampai pada akhir penantianku. Aku telah dibunuh rindu yang kuat dengan Alex. Alex akan pulang sebentar lagi. Dia akan sampai di bandara sebentar lagi. Dia akan membawakanku sejuta harapan yang ku tunggu. Aku masih setia. Aku menghubungi Alex yang dengan cepat. “Halo!” jawab Alex dari seberang sana. “Halo! Alex! Kamu sudah sampai di bandara belum?” kataku cepat. “Udah, San! Emang kenapa?” tanyanya dengan logat lain. “Nggak apa-apa. Aku mau jemput kamu dan aku sangat merindukanmu,”kataku dengan sedikit berharap. “Oh, iya deh! Aku tunggu ya. Aku satu jam lagi baru berangkat ke rumah. Aku sedang menunggu Marry yang juga aku bawa ke Indonesia sebagai ganti aku yang sudah berkunjung ke negaranya,”kata Alex. “Hmm… gitu! Oke deh! Aku berangkat ya!” kataku mulai beranjak dari kursi depan teras rumah. “Iya!” jawab Alex singkat. Aku tak menyadari betapa bedanya sambutan Alex kepadaku. Padahal, aku tak kan pernah bisa menyambutnya beda untuk saat ini. Aku benar-benar rindu. Aku tak bisa diam lagi. Aku selalu berdoa untuk tetap bertahan dengannya. Alex sudah tahu siapa aku sebenarnya. Dia juga telah tahu kalau aku telah mengidap penyakit Alzheimer diumurku yang begitu belia. Sungguh menyakitkan apabila ditambah lagi sakitnya dengan pertemuan yang tak berujung dengan indah. Aku tak bisa lagi menutup cintaku padanya. Bukan aku tak menghargai diriku sebagai wanita, tapi aku menghargai hatiku yang sedang jatuh cinta. Manis memang hubunganku. Aku tak mau kalah dari Juliet yang selalu mencintai Romeo dalam bentuk apapun. Aku cinta. Ceritaku memang akan berujung pilu namun kau tetap menjaga hatiku untuk bertemu Alex. Ah! Aku tak mempedulikan perasaan negatifku terhadap reaksi Alex yang telah membawa satu wanita yang bernama Marry dan dia mengatakan juga bahwa Marry adalah ganti dirinya yang telah mengunjungi Australia. Sedikit banyaknya aku memang cemburu. Namun, aku berhasil menepis rasa itu melalui pandanganku yang ku lemparkan pada gedung-gedung tinggi sepanjang perjalanan menuju bandara. Sopir pribadiku memang setia. Aku diantar sampai ke alamat dan dia pun menolongku mencari jejak Alex di bandara. “Non! Dimana Tuan Alex berada sekarang?” kata sopirku yang bernama Pak Pendi. “Eh, iya, Pak! Katanya dekat loket penjualan karcis pesawat terbang nomor dua. Antar aku kesana ya, Pak!” pintaku pada Pak Pendi. “Iya, Non! Ayo kita kesana!”kata Pak Pendi. Aku berjalan mengelilingi bandara mencari jejak Alex dan Marry. Aku lelah tapi apa boleh buat rasa rinduku tak mungkin hilang begitu saja. Aku ingin menyampaikan pesanku yang takkan pernah aku lupa. “Non! Itu tuh Tuan Alex! Kita kesana, yuk!” kata Pak Pendi. “Ayo, Pak!”kataku cepat. Aku berlari dengan cepat menghampiri Alex yang sedang bercengkrama dengan Marry. Aku menyapa lembut tatapan Alex dan juga Marry. Menakjubkan! Mereka layaknya sepasang kekasih yang sudah berpacaran lama. Aku pun sudah siap dengan setiap pendapat yang akan dikeluarkan Alex padaku. “Hei, Alex! Gimana kabarmu setelah kembali?” sapaku ramah dengan cemburu. “Hei, San! Aku baik-baik saja. Oh ya. Ini Marry temanku dari Australia tepatnya Sydney,”balas Alex sembari mengenalkan Marry kepadaku. “Hei! I’m Sani Dewita. Nice to meet you, Marry!” sapaku lembut. “Hei! I’ Marry Bostrey. Nice to meet you,too! You’re beutiful girl, Sani! I like you!” kata Marry memuji. “Hmmm… Eh! Thanks friend! You, too!” kataku membalasnya. “Kamu nggak sakit lagi kan?” tanya Alex kembali. “Nggak kok! Aku udah berusaha agar tidak sakit lagi untuk bertemu kamu saat ini,” jawabku sedikit menahan. “Hmm.. Tapi, kok wajah kamu aneh sekarang?” tanyanya balik. “Nggak apa-apa kok. Cuma sedikit capek aja! Nggak usah khawatir,”kataku lepas. “Iya deh! Oh ya, sebentar lagi Mamaku akan datang menjemput, aku mau siap-siap dulu. Kamu mau ikut ke rumahku?” ajak Alex. “Nggak usah deh, Lex! Aku mau pulang. Mau istirahat. Aku kesini Cuma mau menyampaikan ini “Aku menunggu sampai napasku diambil Tuhan”, bisik Sani tulus ke telinga Alex. Lalu, aku berlalu pergi dan tetesan demi tetesan membuat butiran bening menghujani pipiku. Pak Pendi dengan sigap mengendarai mobil. Dia tahu bahwa aku telah tersakiti. Hatiku memang sakit, tapi aku tak mau lagi menyalahi pilihan Alex. Aku memang banyak kekurangan, namun aku juga banyak kelebihan. Hatiku mempunyai kelebihan cinta buat Alex. Namun, dia tak merasakan sedikit pun. Marry yang manis dan sehat akan aku relakan menjadi pasangan masa muda Alex karena aku tak siap lagi untuk menahan kepedihan Alex untukku. Aku hanya dapat menyusahkan dia. Cintaku hanya sampai aku benar-benar lupa dengan semuanya. Aku rela. *** Dua hari telah berlalu. Seakan-akan aku merasakan kosong pada hatiku. Hal itu diakibatkan karena Alex tak seindah dulu berada dihatiku. Dia tak lagi menghubungiku dengan sesering dulu. Sepertinya, dia lebih mementingkan Marry daripada aku. Setiap di sekolah, aku selalu diberikan perhatian yang berbeda. Aku memang tak sempurna tapi aku akan menjadi diriku dengan utuh. Aku mulai tak sebaik dan tersenyum mudah seperti dulu lagi. Hari-hariku hampa dan tak bernyawa. Sungguh aku telah menerima penyakit yang kedua setelah penyakit Alzheimer ini. Seharusnya aku berterima kasih, tapi aku tak sanggup untuk mengucapkannya dengan semudah itu. Alex tak lagi akan ku harapkan. Dia telah menjadi milik Marry, walaupun dia tak pernah mengucapkan kata putus padaku. Aku akan tegar. Aku semakin lama semakin merasakan sakit pada hatiku dan aku depresi. Sesak menggerogoti liang napasku. Pak Pendi yang sedang duduk di depan rumah pun mendengar keluhanku yang secara tiba-tiba. Dengan kecepatan yang sigap dia langsung mengambil kunci mobil dan melaju menuju rumah sakit tempat biasanya aku berobat. Aku diserang sakit kepala yang begitu hebat dan menyesakkan dadaku. Sesampai di rumah sakit, Pak Pendi langsung membawaku ke ruang UGD. Beliau lanjut menelpon Mama dan Papa. Tak lama Mama dan Papa pun datang. Beliau cepat-cepat menuju UGD dan menemui dokter pribadiku. Aku telah mencapai stadium akhir dari penyakit yang aku derita. Itu tak bisa dihentikan lagi. Hari-hariku akan dijalani dengan kelupaan yang berujung kematian yang tak berarti. Alex akan hilang dengan sesaat dari memoriku. Saat itu juga aku harus merelakan Alex untuk Marry. Sakit rasanya menusuk dadaku. *** Tiga hari kemudian, Alex mencoba menelponku tapi yang mengangkat hanya Mama, karena aku lemah dan belum bisa memegang telpon genggam itu. Berat rasanya bila aku mencoba untuk memaksanya. “San, aku mau ketemu kamu,”kata Alex langsung. “Maaf Alex. Ini Mama Sani. Sani sekarang terbaring dirumah sakit. Udah tiga hari ini dia dirumah sakit. Kemaren dia terserang sakit kepala yang hebat,” kata Mama. “Apa? Sani dirumah sakit?” teriak Alex histeris. “Iya, Alex!” “Aku akan kesana tante. Tunggu aku!” kata Alex. “Iya. Hati-hati ya!” balas Mama. Telpon dengan cepatnya ditutup. Alex dengan sigap menuju rumah sakit tempat aku dirawat. Aku telah ditemani dengan selang penghantar air infus yang mengandung zat makanan, karena aku tak bisa makan. Aku telah mendapati susah menelan. Sakit sekali. Tak lama Alex datang. “San, kamu tak apa-apa kan?” kata Alex dengan matanya yang merah. Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Aku tak lagi bisa bicara dengan begitu lancar lagi. Alex semakin menahan air matanya. Aku tak kuat lagi. Aku usahakan untuk bicara. “A…lex..! Aku….sa…yang…ka..mu!” kataku terbata-bata. “Iya, San! Aku juga sayang kamu. Jangan tinggalin aku ya,” kata Alex. “A…ku…tak…ku..at…lagi! A..ku..mau…ka…mu…ba..ha..gia..de…ngan… Ma…rry…a..ku…re..la!” kataku terbata-bata dengan meneteskan air mata sakitku. “Jangan, Sani! Aku mohon jangan tinggalin aku! Aku sayang kamu,” kata Alex. “Le..pas..kan..a..ku..Alex..! A..ku..a…kan…per…gi!” kata Sani lelah. Sedikit demi sedikit rasa sesak tak jauh dari kerongkongannya. Dia semakin sesak. Mama hanya dapat menahan pedih dengan hilangnya satu anaknya. Dia mencoba untuk tegar memeluk Papa. Alex menelan rasa kecewanya dengan begitu perih. Aku akan bertemu kamu di surga Alex. Jangan lupakan aku ya. Aku akan terbang jauh menuju singgasana Tuhan yang merindukan kedatanganku. Aku lepas dari duniaMu. Terima kasih telah menerimaku sebagai makhluk ciptaanMu di duniaMu. Selamat tinggal Alex. sumber : http://cerpenmu.com



Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terjemahkan