Rabu, 03 Oktober 2012

Cinta itu Pengakuan

Cinta itu Pengakuan
Aku tak pernah mengagumi atau mengidolakan siapapun dalam 15 tahun perjalanan hidupku. Bahkan ibupun aku tak tahu, tak pernah bertemu. Hhhhh entahlah. Aku bahkan pernah berfikir akan lebih baik bila aku tak pernah dan tak akan pernah bertemu seseorang yang seharusnya kupanggil ibu itu bila benar dulu ia membuangku. “Ra tadi malem liat dramkor boys Before Flower ga?” tasya membuyarkan lamunanku. “Iya liat dikit.” Jawabku dingin. “Sedih banget kan tuh pas si Pyo hilang ingatan, trus malah bareng ma cewek lain. Oooooohhhh ga kuat nih ceritainnya juga, meleleh deh entar ni air mata.” “………………………” nocomment. “Ya ampuuuun dah itu muka lempeeeeeng aja gitu? Emang udah mati rasa kali yah. Miris banget punya temen kaya gini Ya Allah!” “Abisnyaaaa cerita, aktor, sama aktrisnya juga ga ada yang menarik tuh. Apalagi itu tuh yang aktor utamanya, yang rambutnya keriting sama kaya bibirnya. Hhhhh sumpah deh jiji banget.” “Dasar katro, itu namanya seksi tauuu.” “Seksi kok kaya gitu.” “Kamu ga bakalan tahu atuh, orang kamu ga pernah terjamah makhluk yang namanya cowok.” “bukan muhrim” “Jiahahaha bilang aja ga laku.” Tasya tertawa puas. “………………………” Aku sering sekali menjadikan bajuku sebagai teempat Tasya menumpahkan air matanya. Masalahnya hanya seputar jatuh cinta dan patah hati, berkali-kali. Tapi aku salut padanya karena ia selalu berhasil untuk bangkit lagi. Walaupun aku sama sekali tak mengerti tentang cinta, aku masih bias mengerti dan memahami perasaan sahabatku. Aku yang tak pernah jatuh cinta justru bersyukur karenanya. Karena dengan tidak jatuh cinta aku juga tidak pernah sakit hati. Aku tak perlu menjadi seperti Tasya yang harus membuang-buang air matanya, mubazir itu namanya. “Eh Lyra liat tuh ada si ganteng tengil kesini.” “Hah? Siapa?” Aku berbalik dan melihat sesosok makhluk aneh menyebalkan berjalan ke arahku dan Tasya. “Ngapain yah si Andi kesini?” “Kaga tau.” Gumam Tasya. Andi adalah idola di sekolahku. Tapi semua hal yang dimiliki olehnya adalah hal-hal yang dibenci olehku. “Kurus! Haha.” Katanya tiba-tiba saat sudah berada tepat didepanku. “Hhhh cowok gila.” Gumamku dengan suara keras. Tiba-tiba, “pletukk” dia menjitak kepalaku. “Heyyyy.” Bentakku sambil bangkit berdiri. “Hahahahaha.” Saat itu pula semua temanku memperhatikanku dan Andi. “Pergi sana!” Bentaku lagi. “Hmmmm dari deket ganteng banget yah.” Kata Tasya tiba-tiba. Mendengar hal itu, Andi kemudian mengedipkan matanya persis orang cacingan. Sementara aku memelototi Tasya yang masih menatap lekat wajah menjijikan Andi. Andi melangkah perlahan lebih dekat denganku, menatap mataku dan terus melangkah seakan menantangku. Hingga hidungnya kini hanya beberapa sentimeter didepan hidungku saat ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia tetap dalam posisinya dalam waktu 5 menit, waktu yang cukup lama bagiku. Yang membuatku tak mengerti adalah alasan kenapa jantungku berdetak begitu cepat dan napasku seakan berhenti sesaat. Semakin tak kumengerti ketika semua yang terjadi dalam waktu yang singkat itu mampu mengendalikan perasaanku yang tak mau menuruti perintahku sendiri. Entah apa yang kurasakan saat hembusan napasnya terasa begitu hangat menyapu wajahku. Oooh Tuhaaaan aku tak mengerti apa yang terjadi. “Gue cakep kan?” Tanyanya tiba-tiba. “Hahahaha” Ia tertawa sambil kembali berdiri tegak lagi. “Nggak!” Tegasku. “Boong. Terus kenapa tadi bengong?” Ia menyudutkanku. “Hahaha.” Satu kelas mentertawakanku, dan aku benar-benar malu. Merasa, dipermainkan juga merasa dikalahkan. Tasya menyusulku saat aku pergi membasuh wajahku, mencoba mengendalikan perasaan dan detak jantungku. Tasya menghadapkan tubuhku kearahnya. Ia menatapku dengan pandangan aneh. “Wow!” umamnya. “apaan?” Tanyaku sambil menyingkirkan lengannya dari pundakku. “Aku baru tahu, kamu yang super dingin ini bias juga bereaksi hangat sama si Andi itu.” “Hangat apanya? Ngaco!” “Swear Lyra. Yaaaa walaupun keliatan aga kasar, tapi kalo diperhatiin lagi kalian jadi kaya akrab banget, cocok banget pokonya.” Tasya berekspresi aneh dan menggebu-gebu. “Aaaaaah hapeuk banget deh tu kata-katanya.” Kemudian aku pergi meninggalkan Tasya yang masih berbinar-binar. Malam harinya saat aku masih sibuk dengan tangisan adik bayiku, handphoneku berdering. Sementara mama masih di dapur membuatkan susu untuk adikku. Telpon itu jelas tak bias kuangkat. “Ra angkat aja telponnya!” Teriak mama dari dapur. “Iya mah. Ssssss sayaaaang. Udah yah! Jangan nangis lagi!” Aku menidurkan adikku diatas tempat tidurnya. “Ya, assalammualaikum! Siapa ni?” Aku menjawab telponnya. “Waalaikummusalam!” Jawab orang di sebrang sana. “Siapa ini?” Aku mengulang pertanyaanku. “Hahahahaha.” Laki-laki ditelpon itu tiba-tiba tertawa. “Hhhhh salah sambung.” Kataku. “Tut tut tut.” Aku menutup telpon tidak jelas itu. Beberapa detik kemudian, nomor itu memanggil lagi. Tak cepat kuangkat mengingat kejadian beberapa detik yang lalu. Tapi ia memanggil hingga 3x. Terpaksa kuangkat lagi. “Yaelaaaaah sabar dikit napa. Ini gue Ra.” Katanya “Siapa?” Tanyaku dengan nada dingin. “Gue cinta pertama lo. Huahaha.” “Dasar gila yah.” “Gue, Andi.” “Hah? Andi?” Fikirku. “Ngapain nelpon aku?” Tanyaku lagi. “Iyaaaa tadi tuh Tasya ngasih nomer ini. Dia bilang kamu pengen ditelpon sama aku, soalnya kamu kan suka sama aku. Ia kaaaan? Ngaku deeeh. Haha, berarti cinta pertama dong? Kamu kan ga laku-laku.” “Gila tuh siTasya.” Gerutuku dalam hati. “Heh say kok diem? Hahaha.” “Say apaan? Sorry ya jangan pernah ngarep deh. Ga bakalan.” Kemudian kututup lagi telponnya. Dengan perasaan kesal yang luar biasa, aku memarahi Tasya habis-habisan. Membuatku semakin kesal saat dia malah tertawa-tawa mendengar ceritaku. “Udah Ra, yang penting kamu bahagia. Nggak usah pake pura-pura marah segala deh.” Kesalku bertambah lagi dan kututup lagi telpon Tasya. Saking kesal sebal dan marahnya, aku sampai susah untuk memejamkan mataku. Hanya karena bayanganorang aneh itu tak mau pergi dari ingatanku. Semua ruang di otakku terisi penuh oleh semua tentang dia. Membuatku tak bias tenang saja. Bahkan saat tidurpun dia masih menjadi tokoh utama dalam mimpiku. Ternyata orang yang kita benci akan selalu mengganggu kita dimanapun dan kapanpun. Aku yang tak yakin akan bercerita pada Tasya memutuskan untuk menceritakan apa yang kualami itu pada guru BK langgananku, Pak Ray. “Jadi kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu atau pura-pura tidak tahu?” Tanya Pak Ray. “Tahulaaah Pak, itu terjadi gara-gara aku udah kelewat benci sama dia.” “Salah.” “Lho? Jadi apa dong Pak?” “itu artinya cinta. Haha.” Pak Ray tertawa kecil setelah mengatakannya. “Hah?” Aku benar-benar kaget mendengtar guru yang paling kupercaya mengejekku juga. Aku belum pernah dibuat kesal oleh pak Ray, kecuali hari ini. Aku berjalan lagi menuju kelasku. “Heh neng.” Andi tiba-tiba sudah menyamakan langkahnya denganku. “Udah deeeh syukuri aja tuh cinta. First love pula. Kan asyik tuh.” “Hhhh’” Aku hanya menghela napas tepat saat aku sampai didepan kelas dan lalu aku duduk disana. “Kita baikan aja yu! Abis itu kita pacaran deh. Haha, asyik gak tuh? Aku juga kayanya aga sedikit lumayan suka nih sama kamu. Haha akhirnya ngaku juga.” Ia melanjutkan celotehannya. ”Lagian yah Ra, siapa lagi coba yang mau sama cewek jelek kaya kamu. Jadi gimana nih?” Tanyanya lagi. “What? Jadi dia lagi nembak aku nih ceritanya?” Fikirku. “Masih nggak mau jawab juga? OK. Liat yah.” Ia tiba-tiba berdiri. Lalu berteriak. “Hey temen-temen! Gue sama Lyra…” “Stop!” Aku balas berteriak saat semua mata tertuju pada kami. “Gue saying banget sama Lyraaaa.” Ia tetap berteriak dengan wajah puas. “My God!” aku malu setengah mati. Semua orang disana bertepuk tangan. “Terima! Terima!” Semua temanku menyerukan hal yang sama, mendukung Andi. “Udah deh Ndi. Malu-maluin aja!” Gerutuku sambil meraih tangannya untuk menariknya duduk lagi. “Eit eit udah mulai pegangan tangan nih?” Teman-temanku mulai menggodaku lagi. Andi semakin puas saja tampaknya. “Jadi gimana nih?” Andi berbisik padaku. “Terima aja deeeeh.” Tasya berteriak di barisan paling depan pendukung Andi. “Hhhhhh.” Aku menghela nafas lagi. “Jawab dong!” Andi meminta. “Hmmmm iya deh iya, Ok aku terima.” “Suit suit.” Kompak teman-temanku bertepuk tangan. “Thanks yah Ra. Kamu jadi cantik banget sekarang. Bukan gombal yah. Ini jujur dari hati.” Ia tersenyum padaku. “Heh tapi ini karna temen-temen aku yah. Bukan berarti aku beneran……………” Belum sempat kuselesaikan perkataanku, ia tiba-tiba memelukku. Entah seperti apa perasaanku. Yang kutahu, pada saat itulah aku merasakan kehangatan yang belum pernah kudapat sebelumnya. Pada saat itu pula aku mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta. Harus kuakui, aku memang mencintainya. Nama Penulis: Nira Nurani Teresna Dewi sumber : ceritamu.com



Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terjemahkan