Rabu, 03 Oktober 2012

Endless Love

Endless Love
Hari ini tidak seperti biasanya. Langit kota Bandung yang sempat diguyur hujan beberapa hari belakangan kini berubah cerah ditemani matahari yang memancarkan cahaya kelembutan. Aku tidak tahu mengapa dan apa persisnya yang terjadi, namun pagi ini, aku yang biasanya malas bangun pagi kini bersemangat untuk bangun lebih awal lagi. Setelah sarapan aku bergegas keluar dari rumah kost-ku untuk sekedar jogging. Memang kelihatannya aneh, karena tidak biasanya aku suka berjalan-jalan keluar rumah, apalagi jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi rasanya seperti ada yang menggerakkan langkah kaki ini hingga akhirnya aku menemukan penjual koran yang berjualan tak jauh dari rumahku. Tanpa pikir panjang lagi aku menghampiri kios koran dan majalah tersebut. Iseng-iseng timbul keinginanku untuk membeli sebuah koran nasional yang dipajang disana. Tak ada yang istimewa di halaman pertama bagian atas, namun saat mataku menatap lurus kebagian bawah, ada sebuah berita menarik lengkap dengan foto yang berukuran lumayan besar di tengahnya. Lagi-lagi, ini berita tentang dirinya. Dia yang menjadi sumber inspirasi selain kedua orangtuaku. Seseorang nun jauh di seberang pulau yang menyadarkanku tentang betapa bermaknanya hidup ini. Seseorang yang membuatku menyadari pentingnya pendidikan hingga akhirnya aku diterima di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Dia adalah sahabat terbaikku selama tiga tahun di bangku sekolah menengah atas, ia selalu memancarkan cahaya kelembutan seperti namanya, Nur Latifa. Berita pada koran itu adalah kedua kalinya setelah opininya dimuat oleh koran lokal saat ia masih duduk di bangku SMA. Berita hari ini juga tidak jauh berbeda, ia menjadi salah seorang dari kelima pemenang IT paper contest, sebuah ajang perlombaan makalah tentang teknik informatika se-Indonesia. Makalahnya tentang sistem pembelajaran berbasis e-table diterima oleh dewan juri. Aku sendiri tidak ragu pada kemampuan dirinya. Entah sudah berapa kali ia berhasil memukau teman-teman satu sekolah karena keaktifannya dalam berorganisasi dan terampil berbicara di depan umum. Aku juga masih ingat saat ia mempresentasikan makalah didepan majelis guru sebagai persyaratan di sekolah kami untuk mengikuti Ujian Nasional. Pertanyaan demi pertanyaan ia jawab dengan lugas dan lancar. Kini ia tetap melanjutkan kuliahnya di Pekanbaru, sementara aku merantau di Paris van Java demi cita-citaku menjadi insinyur. Aku memilih melanjutkan di ITB Jurusan Teknik Sipil. Sebenarnya aku enggan berpisah dengannya, tapi aku lebih mementingkan pendidikanku saat ini. Demikian juga dirinya, sudah tiga tahun ini ia tidak lagi menghubungiku. Pernah terbersit rasa ingin mengetahui keadaannya, tapi aku tidak tahu harus menghubungi kemana. Ia terlalu misterius bagiku. Akun jejaring sosial dan nomor ponselnya saja bahkan aku tidak tahu. Andai saja ia tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, mungkinkah ia masih tidak mempedulikanku seperti saat ini? Aku masih ingat saat perpisahan kelas 3, saat-saat terakhir kami bersama sebelum akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku menghampirinya tepat saat ia baru turun dari panggung seusai membacakan puisi perpisahan karyanya. “Fa, sebenarnya aku…,” entah mengapa tiba-tiba saja aku berkeringat dingin “Ada apa, Vid? Apa tidak bisa nanti saja?” ia menatapku dengan matanya yang sama seperti boneka Barbie, aku pun bingung harus berkata apa lagi untuk menutupi kegugupanku. Iapun lalu mengajakku ke sudut ruangan. “Ng.., sebenarnya aku….,” Ia tampak bingung dengan ucapanku. Aduh, ngomong apa sih aku ini? Aku menggaruki kepala, namun berusaha terlihat santai,”Aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat sama kamu…, kamu sendiri gimana? Aku harap kamu mengerti maksudku,” ucapku cepat namun terbata-bata. Aku tak yakin ia memahami maksudku. Akupun tak mengerti mengapa aku bisa segugup ini. Diluar dugaanku, ia hanya tersenyum simpul, yang semakin menambah rasa penasaranku. “Vid…, aku ngerti kok, maksud kamu. Kamu pernah bilang kalau sifat aku sama seperti ibumu, kan? Berarti kamu menganggap aku ini Emak-Emak, yah?” ia hanya ngeles lalu nyengir hingga gigi gingsulnya terlihat, tapi ia tetap mempesona menurutku. Aku menunduk sedikit, memberi isyarat bahwa bukan itu yang kumaksud. Tapi ia malah tertawa kecil,”Vid, kamu tahu kan prinsip aku?” Aku mengangguk pelan. Jujur aku malu, ini pertama kalinya aku mengatakan perasaanku kepada wanita. Memang benar-benar aneh!. “Cinta sejati itu bukan milik mereka yang hanya ingin status dan bermain-main dalam cinta. Cinta sejati hanya milik mereka yang mampu menahan perasaannya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran dan ia mampu menjaga cintanya hingga waktunya tiba,” ucapannya yang lugas dan jelas menusuk hatiku. Ia tidak mau menjadi bagian dari hatiku untuk saat ini. Tapi aku yakin, kok, suatu saat nanti akan datang masa dimana seorang pangeran yang berkharisma melamarku dengan kuda putih, hehehehe….,” lagi-lagi ia ngeles. Ya, aku tahu dan sangat mengerti maksud dirinya. Ia ingin fokus melanjutkan pendidikannya dulu. Ia ingin membuat keluarganya bangga. Aku tahu karena ia sendiri yang menceritakannya padaku beberapa tahun yang lalu. Aku hanya tersenyum saat itu. Hari ini aku lupa menghitung sudah yang keberapa kalinya aku senyum-senyum sendiri setiap kali mengingatnya. Hal yang paling kuingat adalah kecerobohannya. Walaupun cerdas dan selalu memancarkan cahaya kelembutan, tak jarang ia kurang berhati-hati ketika berjalan. Saat itu sedang istirahat, kulihat ia sedang asyik membaca buku sambil berjalan ketika tiba-tiba dahinya terbentur tiang. Kontan saja teman-teman yang melihat kejadian itu tertawa, termasuk diriku. Kini aku menyesal telah mentertawainya. Dulu aku tidak melihat ‘sesuatu’ yang ada pada dirinya hingga aku menjadi galau seperti ini. Latifa……, dimana sih kamu sekarang….???. Beberapa jam kemudian dengan langkah gontai namun senang aku kembali ke rumah. Beberapa orang teman serumahku tampak terlihat cemas menunggu di teras. “Navid! Kamu kemana aja????!!! Aku udah nyari-nyariin kamu sampai ke ujung kompleks tau gak! Tapi ternyata kamu malah disini…..” Rahmat mencerocos sambil mengunyah keripik jengkol. Ya, itu adalah makanan favoritnya. Ia terus mengomel tapi aku tetap tidak mempedulikan. “Vid! Kamu denger aku, kan???” tanya Rahmat lagi. “Iya aku denger. Lagian kan aku bukan anak kecil lagi,” jawabku santai, kemudian aku menyalakan TV dan duduk di sofa. Sebuah stasiun televisi sedang menayangkan sebuah acara teknologi. Mataku terpaku pada seseorang yang disorot oleh kameramen tersebut, yaitu seorang gadis berjilbab pink yang tersenyum simpul saat dipotret oleh puluhan wartawan seraya memegang piala dan memegang sebuah kertas, mungkin saja sertifikat. Ia kemudian berlalu bersama dengan seorang cowok yang menurutku lebih tampan dibanding diriku. Siapa dia? Aku jadi tertunduk, mungkinkah dia lupa….? Cukup lama aku terpaku pada tayangan itu. Aku jadi minder sendiri, kemudian pikiran negatif memasuki otakku. Apakah sudah ada yang meminangnya? Setahun kemudian… Ruangan PKM ini cukup untuk memuat sekian banyak peserta wisuda. Aku agak cemas ketika menunggu namaku dipanggil. Setelah sekitar tiga puluhan wisaudawan yang dipanggil namanya, kini tibalah giliran namaku. “Muhammad Navid Mirza, putra dari Bapak dr. Atmajaya. Indeks Prestasi Kumulatif 3,85. Predikat Cumlaude,” suara MC terdengar membahana hingga ke jantungku. Penonton bertepuk tangan meriah. Akupun langsung bersujud syukur, lalu menuju ke podium. Dari atas podium aku melihat ibu dan kakakku yang menyempatkan diri untuk datang sedang tersenyum bahagia. Apakah Ayah juga akan ikut bahagia? Setahuku Ayah selalu sibuk. Aku juga membayangkan apakah Latifa, sahabatku juga akan ikut senang hari ini? Aku sudah menjanjikan sesuatu padanya empat tahun lalu. Apakah ia masih ingat? Ataukah ia sendiri juga sudah lupa pada janjiku itu?. Kini tepat sebulan setelah nama dibelakangku resmi menyandang gelar ST, alias Sarjana Teknik. Hari ini aku berbahagia, karena seminggu yang lalu Latifa menghubungiku. Hari ini aku sudah kembali ke Pekanbaru. Aku akan memenuhi janjiku empat tahun lalu. Aku akan datang ke rumahnya bersama kedua orangtuaku. Walaupun tidak datang dengan kuda putih, tetapi cincin putih ini cukup sebagai tanda bahwa aku serius padanya, aku ingin menemaninya hingga ajalku tiba. Masih terngiang di telingaku kata-katanya dulu,” Cinta sejati itu bukan milik mereka yang hanya ingin status dan bermain-main dalam cinta. Cinta sejati hanya milik mereka yang mampu menahan perasaannya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran dan ia mampu menjaga cintanya hingga waktunya tiba” Ya, kupikir inilah saatnya. Waktunya telah tiba. Sebelum ke rumahnya aku membaca basmalah, lalu kustarter mobil Honda City silver-ku, lalu menuju rumahnya. Aku berdo’a mudah-mudahan perjalanan cinta yang kulalui ini direstui Allah swt. Amin… Cerpen Karangan: Cyintia Kumalasari Blog: cyintiakumalasari.blogspot.com sumber : cerpenmu.com



Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terjemahkan