Selasa, 02 Oktober 2012

Sempurna Tanpa Cacat

Sempurna Tanpa Cacat
sempurnaTanpa cacat? sempurna? Hmm.. mungkin itu yang dicari atau justru menjadi tujuan dari hidup seseorang. Orang yang memulai wirausaha atau usaha kecil, tentu ingin bisnis perdagangan tersebut berjalan sempurna dan bisa mendatangkan kekayaan. Seorang seniman juga selalu berharap semua karyanya bisa sempurna tanpa cacat. Perfeksionis sering disebut sebagai sifat yang melekat pada seseorang yang selalu ingin semuanya sempurna. Tapi apa kesempurnaan itu? mungkin beberapa larik cerita di bawah ini bisa sedikit memberi arti atau setidaknya bisa memberi gambaran tentang pencapaian kesempurnaan termasuk efek sampingnya.. ^^ ———- Good night bro..! Aku tidak tahu bagaimana awalnya, tapi yang jelas aku selalu ingin semuanya sempurna. Aku menghendaki apa saja yang ada di sekitarku selalu tanpa cacat. ‘Baik’ masih belum cukup, harus ada sesuatu yang membuatnya terlihat ‘luar biasa’. Intinya, tidak ada kata ‘standar’ dalam kamusku, semua harus sempurna. Pernah aku menghapus file dan langsung lakukan perintah empty recycle bin pada sebuah file Photoshop hanya karena aku tidak menemukan sesuatu yang luar biasa pada desain tersebut. Padahal, aku sudah mengerjakannya selama berhari-hari. Pernah juga secara spontan aku langsung membuang makananku hanya karena pembantuku lupa menaruh merica pada ayam goreng kesukaanku. Kerjakan secara sempurna, atau tidak sama sekali! Lambat laun, aku berubah menjadi seorang penuntut. Aku ingin setiap orang bisa mengikuti prinsipku. Entah, berapa kali teamwork yang bekerja denganku tercerai berai karena kerasnya hatiku. Tapi aku tidak menyerah. Toh, setiap orang selalu memuji kesempurnaan karya-karyaku. Tetapi apa yang terjadi? Aku mulai kesepian di sini. Semua anggota teamwork-ku memang takut dan tunduk dengan semua perintahku, tetapi aku mulai sadar bahwa tidak ada dari mereka yang menghormati aku – bahkan tidak ada dari mereka yang menyayangi aku. Aku mulai merasa ‘sendiri’. Semuanya seperti sedang berjalan meninggalkan aku. Ketika aku menangis, aku merasa semua sedang mentertawakanku. Dan ketika aku tertawa, tidak ada satupun yang mau tertawa bersamaku. Hidup dan hatiku menjadi sangat menyedihkan. Di tengah keterpurukanku, dan seiring dengan kedewasaanku, aku menyadari bahwa memang tidak ada yang selalu sempurna. Ternyata, butuh waktu yang sangat panjang dan pelajaran menyakitkan untuk memahami bahwa kesempurnaan bukanlah tanpa cacat. Aku mulai belajar, bahwa kesempurnaan adalah tentang bagaimana menerima ketidaksempurnaan itu sendiri. Sempurna adalah kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kesempurnaan. Kesempurnaan adalah saat kita dapat merasuk dalam hati seseorang untuk menemukan mutiara diantara bungkus-bungkusnya yang penuh cacat. Kesempurnaan adalah saat kita dapat memahami luka sebagai tekstur kehidupan. Itulah kesempurnaan sejati.. itulah yang aku dapati dari keterpurukan ini. Ya, masa-masa pekat itu memang sudah berlalu. Aku sudah bisa memahami semuanya sekarang. Ya, aku memang masih perfeksionis, aku masih ngotot untuk membuat design dan menghasilkan ide-ide terbaik, aku masih mengkoleksi gadget terbaru dan memastikan apa yang ditanganku selalu modern, dan aku masih memastikan tidak ada noda sedikitpun di layar monitorku. Tetapi ada yang berubah sekarang, aku tidak melukai orang lain karena keinginanku, aku tidak akan mengorbankan kepentingan, kebahagiaan, apalagi hidup orang lain untuk mengejar kepuasanku. Dan lebih dari itu, aku telah belajar untuk menerima orang lain dan terutama diriku sendiri.. yang juga tidak sempurna.. OK, bro.. semoga kau bisa ikut belajar dari ini semua.. salam untukmu..! . (Ditulis dari cerita dan penuturan seorang sahabat yang enggan ditulis namanya. Makasih, Mas.. May success always be with u.. ^^ ) . A beautiful thing is never perfect.. ^^ . sumber : ceritainspiratif.net



Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terjemahkan